Budidaya Ayam Kampung

bfarm 25 Desember 2018 Tidak ada komentar

Ayam kampung biasa dibudidayakan oleh peternak di Indonesia dengan cara diumbar, atau ayam dibiarkan berkeliaran dan mencari makan sendiri. Namun cara ini dipandang kurang memiliki nilai ekonomis jika tujuan pemeliharaan untuk profit  oriented. Pola pemeliharaan ayam kampung secara intensif merupakan cara yang bisa mendatangkan keuntungan sebagai sebuah bisnis. Permintaan daging ayam kampung yang cukup besar memberikan peluang bisnis yang menggiurkan untuk budidaya ayam kampong.

Berikutnya akan kita bahas lebih detil cara membudidayakan ayam kampong dengan memperhatikan beberapa aspek berikut ini:

  1. Kandang Semi Intensif

Apakah anda sudah memiliki gambaran seperti apa kandang yang digunakan dalam sistem ini? Jadi, untuk kandang semi intensif digunakan sebidang lahan yang sekelilingnya diberi pagar. Ayam diusahakan tidak bisa meninggalkan area tersebut. Di dalam lahan terdapat kandang tertutup sebagai tempat untuk beristirahat dan berteduh.

Buatkan juga kandang koloni untuk tempat ayam berkembangbiak. Lahan pada area ini juga bukan sembarang lahan. Tanahnya harus ditumbuhi rerumputan dan dibuat tidak terlalu padat dengan sesekali dicangkuli. Tujuannya agar cacing bisa berkembangbiak.

  1. Perkawinan Sistem Semi Intensif

Agar ayam kampung kita semakin banyak, maka perkawinan ayam perlu dilakukan. Jika pada sistem umbaran perkawinan terjadi secara alami, maka pada sistem semi intensif peternak akan memiliki lebih banyak peran.

Proses perkawinan pada sistem ini akan terjadi di sebuah kandang koloni yang berukuran 1×2 m. Kita akan memasukkan 6 ekor indukan betina dan 1 ekor pejantan dalam kandang ini. Beberapa hari kemudian perkawinan bisa terjadi dan 3 hari setelah perkawinan ayam akan bertelur.

Lalu, telur itu harus segera dikeluarkan agar bisa dierami oleh betina lainnya. Inkubator pun bisa digunakan untuk meneteskannya. Jika anda berniat menjual telur ayam kampung, maka indukan ayam boleh dikawinkan boleh juga tidak. Toh, ayam akan tetap bertelur walaupun tidak dikawinkan.

Jumlah telur yang dihasilkan tiap tahunnya rata-rata 115 butir/indukan. Sedikit sih, tetapi jumlah ini masih bisa digenjot dengan pemberian pakan dan perlakuan yang tepat. Anda juga bisa membudidayakan ayam kampung hasil persilangan yang mampu bertelur dengan lebih banyak.

 

  1. Pemeliharaan Ayam

Sebelum kita membahas cara beternak ayam dengan sistem intensif, perlu diketahui dulu ciri-ciri bibit ayam yang baik untuk dibesarkan. Ciri tersebut adalah tidak cacat, mata bersinar, bulu bersih, berdiri tegap dan pusar yang terserap sempurna.

Bibit ayam kampung asli akan lebih baik dari ayam kampung silangan. Walaupun produktifitasnya tidak terlalu besar, tetapi ayam ini daya tahannya terhadap penyakit sangat kuat.

Berikutnya, cara pemeliharaan. Pada sistem semi intensif, pemeliharaan ayam kampung sangat mudah karena dilakukan didalam sebuah area yang terlindungi pagar. Cacing-cacing yang terdapat pada area tersebut dapat menjadi pakan alami yang kaya akan protein. Pemberian pakan tambahan juga perlu dilakukan sebanyak 2 hingga 3 kali dalam sehari.

Untuk mendapatkan telur ayam kampung, anda cukup menunggu hingga 6 bulan saja. Tetapi ayam kampung yang akan dikonsumsi dagingnya harus dipelihara hingga umur 8 – 12 bulan.

Budidaya ayam kampung dengan sistem semi intensif dapat menghasilkan ayam yang berat badannya lebih besar dari sistem umbaran. Pemeliharaan dan pakan yang baik pun akan membuat kita mampu memanen lebih banyak telur.